BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

April 14, 2011

Short Story

FLASHBACK

"Aaaa!! Emang kalo rambut gue panjangan gue jelek, yah?"
"Ga, kok. Aku suka rambut kamu meski udah panjang. Lebih cantik"


PRESENT TIME

Sarah memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia perhatikan setiap detil dari tubuhnya, wajahnya, telinganya, hingga rambutnya yang tadi sore baru saja dipuji oleh Rakha, seorang remaja lelaki berusia 17 tahun yang termasuk dingin dan tidak pedulian dengan lingkungan sekitarnya yang entah mengapa telah membuat debaran-debaran di hati Sarah belakangan ini.
Angan Sarah melayang jauh. Baru pertama kali ini ia dipuji dengan kata 'Cantik'. Pasalnya ia adalah seorang gadis tomboy yang menekuni karate dan berkepribadian kuat dan teguh layaknya seorang lelaki. Biasanya kata pujian yang ia terima adalah 'Kuat', 'Hebat', dsb. Tak pernah ia dipuji 'Cantik' apalagi oleh lelaki. Kali ini Sarah tengah memikirkan Rakha (lagi). Sudah beberapa minggu ini yang menggentayangi pikirannya adalah Rakha. Biasanya ia hanya memikirkan tentang karate, pelajaran sekolah, tempat latihan yang seru, Bleach (ya, dia suka baca komik), dan lagu yang update. Selama usianya yang akan menginjak 17 tahun dua minggu lagi ini ia tak pernah merasakan getaran yang ia rasakan saat ini. Berbeda dengan teman-temannya yang mungkin sejak mereka masih 11 tahun sudah membicarakan lelaki dan mempunyai taksiran.

Sarah POV

Kupandangi diriku di kaca. Aku masih tak percaya ada yang memujiku 'Cantik'. Terlebih lagi yg memuji itu Rakha. Jantungku masih berdegup kencang, amat kencang. Biasanya yang membuat jantungku seperti ini hanyalah karate dan ulangan dadakan, tak pernah perkataan dari seseorang. Mungkinkah ini yang namanya cinta? Ah, tidak mungkin! Apalagi ini Rakha! Cowok yang lemot, dingin, cuek, jutek, judes. Tapi, ia juga pintar (bahkan ia yang terpintar di kelas), ternyata baik, ternyata ramah, ternyata konyol, ternyata perhatian, ternyata pandai memasak dan menjahit, dan ternyata di balik kaca matanya yang minus 4 dan 4.5 itu tersembunyi tatapan lembut dan menenangkan hati. Eh, tunggu dulu! Kenapa aku malah memuji-mujinya seperti itu?! Bodoh kau, Sarah! Daripada pikiranku melayang-layang entah ke mana lagi lebih baik aku tidur saja. Tapi, apa benar, ya, kalau rambutku panjang aku lebih ... cantik? Ah! Sudahlah lebih baik cepat tidur! Kumatikan lampu kamarku dan kuhempaskan tubuhku ke ranjang lalu kupejamkan mataku perlahan. Tak sengaja sekelebat wajah Rakha muncul sebelum aku hanyut dalam dunia mimpiku.


2 comments: